Title
: The Black Point
Genre
:
Action-Romance, Comedy, Sad
Rate
: 15+
Leght
:
Seasons
Cast
: - Lee Jimin
- Jung Sungha
- Lee Jihyuk
- Lee Yong Gun
-
Kim Sang Min
Disclamer : Ini
adalah bagian akhir dari FF The Black Point. Author mau ngomong juga kalo
setelah ini mungkin author akan vakum dari dunia ff untuk sementara waktu.
Jadi, buat para reader yang selama ini sudah mau meluangkan waktunya untuk baca
FF author, author ucapkan banyak-banyak terimakasih. Oh iya, siapin tissue
banyak-banyak ya.. Karena ending cerita ini bakalan sangat menyentuh. Semoga
kalian suka.. ^^
^^Happy Reading^^
1 tahun kemudian..
“Jimin…
Aku mencintaimu, Jimin”, ucapku sambil memandang ke arah sekitar taman.
Seketika rasa sesak menyelimuti
hatiku. Akupun mencoba menghela napas untuk mengurangi sedikit kepenatan yang
kurasakan.
“Hai”,
panggilnya dari kejauhan.
Astaga.. Ada apa dengannya?
Kenapa dia pakai mini dress seperti itu? Rambutnya juga terurai panjang tanpa
topi yang selalu melekat di kepalanya. Benar-benar cantik..
“Apa ini
benar-benar Lee Jimin?”, ucapku tidak percaya.
“Iya”,
ucapnya sambil tersenyum malu
Seketika tatapanku tak terlepas dari
wajahnya.
“Ke-kenapa?
Ya sudah kalo begitu.. A-aku pergi”, ucapnya lalu melangkahkan kaki berniat
untuk pergi.
:J-jangan!
K-kau benar-benar cantik”
“B-benarkah?
Terimakasih”
Dengan gugup kami mencoba
berjalan-jalan di sekitar taman sambil bergenggaman tangan. Kicauan burungpun
sseakan menemani kesunyian kami.
“Kenapa
kau berubah?”, tanyaku memecah keheningan.
“Tidak
apa-apa. Aku hanya mencoba menjadi wanita yang pantas untukmu”
“Hmm..
Kemarilah”, ucapku lalu memeluk erat tubuhnya.
“I Love
You Just The Way You Are.. Jadi, siapapun kamu. Aku akan tetap mencintaimu”
“Pip” Tiba-tiba handphone di tasnya berdering.
“Jihyuk
oppa?”, ucapnya setelah membaca nama yang tertera di layar telepon.
Dengan cepat ia mengangkat panggilan
tersebut.
“Iya,
kenapa oppa? Benarkah? Baiklah, aku dan Sungha akan segera kesana”, ucapnya
lalu menutup telepon.
“Ada apa?,
tanyaku penasaran.
“Jihyuk
oppa sudah menemukan alamat rumah lama pembunuh itu”
“Benarkah?”
“Iya. Ayo
kita kesana!”
Jimin POV
Dengan cepat kami menuju ke rumah
yang tertera di alamat ini. Dari kejauhan terlihat sebuah rumah mewah tak
berpenghuni. Kesan mistik seakan menyelimuti rumah tersebut.
“Jadi, ini
rumahnya?”, ucapku sambil menunjuk ke arah rumah tua itu.
“Sepertinya”
“Oke, ayo
kita tanya ke rumah sebelah”, ajakku lalu melangkah pergi ke sebuah rumah yang
terletak tepat di sebelah rumah mewah tersebut.
“Tok tok
tok”
“Iya?”,
ucap seorang wanita keluar dari pintu.
“Maaf
mengganggu, bi. Aku orang yang mencari informasi tentang keberadaan penghuni
rumah sebelah”
“Oh, iya
iya bibi tahu. Lho, ini Sungha Jung?”, tanya bibi itu tidak percaya.
“Iya”,
ucap Sungha sambil menunduk hormat.
“Astaga..
A-ayo silahkan masuk”
***
“Apa bibi
kenal dengan orang ini?”, tanyaku sambil menunjukkan sebuah foto ke arah bibi
tersebut.
“Iya. Ini
anak pemilik rumah di sebelah. Kalau tidak salah namanya Kim Sangmin. Suatu
hari perusahaan ayahnya bangkrut. Mereka jatuh miskin. Semua harta kekayaannya
disita, lalu ayahnya masuk penjara dengan tuduhan penggelapan dana. Tak lama
kemudian ayahnya meninggal karena serangan jantung. Ibunya lalu memberikannya
kepada keluarga konglomerat kaya. Beberapa hari kemudian ibunya ditemukan tewas
gantung diri”
“A-apa?
Jadi apa bibi tahu dimana rumah keluarga konglomerat itu?”
“Wah..
Kalau soal itu bibi tidak tahu. Yang bibi tahu cuma itu”
“Hmm..
Baiklah, terimakasih banyak ya bi”
***
@mobil
“Cerita
pembuh itu ternyata cukup tragis..”, ucap Sungha sambil menyetir mobil.
“Iya.
Tapi, tidak seharusnya dia membunuh ayahku”
“Lalu, apa
rencanamu selanjutnya?”
“Titik
hitam telah hampir ditemukan. Sewaktu kutemui pembunuh itu, pada saat itu juga
aku akan membunuhnya”
“Bagaimana
jika dia orang terdekatmu? Apa kau akn benar-benar membunuhnya?”
Pertanyaan Sungha seketika
membuatku terdiam. Tapi walau bagaimanapun, pembalasan dendam ayah adalah
misiku dari awal.
“Tentu”
“Baiklah.. Semoga kau berhasil. Tapi
kau harus berhati-hati, ya?”
“Iya.. Tenang saja. Jangan khawatir”
Tak
lama kemudian, kamipun sampai di depan rumahku. Dari luar terlihat Jihyuk oppa
sedang melambaikan tangan ke arah kami. Sunghapun menunduk hormat padanya.
“Aku turun, ya. Terimakasih banyak
sudah menolongku”, ucapku sambil membuka pintu mobil.
“Iya, cantik. Apa kau akan dandan
seperti ini lagi besok?”, goda Sungha padaku.
“Diamlah!”, ucapku kasar sambil
menghempaskan pintu mobilnya.
@Jimin
house
“Jimin, kenapa penampilanmu jadi
seperti ini?”, tanya Jihyuk oppa tidak percaya.
“Jangan tanya! Aku sudah tahu kau
akn mengejekku”
“Tidak. Kau benar-benar cantik.. Ini
baru Jimin kecilnya oppa”
“Jad, selama ini aku bukan Jimin
kecil oppa?”
“Iya juga.. Tapi kau terlalu kasar.
Kau bahkan seperti terlihat lebih tua dariku”
“Hmm.. Terserah oppa saja”
“Apa ini karena Sungha?”
“I-iya.. Aku ingin tampil sewajarnya di hadapannya”
“Hahaha.. Tak kusangka, ternyata
Sunga lebih hebat dariku. Bahkan dia bisa meruntuhkan batu dengan kekuatan
sepuluh kali lipat lebih keras”
“Apa? Oppa pikir aku batu?”, ucapku
kesal sambil mengacungkan tanganku.
“Mungkin.. Hahaha.. Tidak.. Oppa
hanya bercanda. Oh iya, bagaimana dengan misi kita?”
“Tadi aku dan Sungha sudah kesana.
Bibi yang tinggal di sebelah rumah itu bilang kalau itu anak Tuan Kim. Namanya
Kim Sangmin. Sejak ayahnya meninggal, ibunya menyerahkan kepada keluarga
konglomerat kaya”
“Lalu, apa kau tanya alamat rumah konglomerat itu?”
“Iya, tapi bibi itu bilang dia tidak tahu”
“Hmm.. Baiklah, kalau begitu oppa akan menyuruh bawahan oppa
untuk melihat data identitas penduduk ke beberapa kantor camat”
“Hmm.. Baiklah, semoga sukses ya oppa!”
“Iya, kau juga sukses dengan Sungha, ya”
“Maksud oppa?”
“Tidak. Oppa hanya suka dengan cara Sungha memperlakukanmu.
Lalu, kenapa kau tidak menikah saja dengannya?”
“Apa? M-menikah?”
“Astaga.. Apa kau juga tidak tahu apa itu menikah?”
“Tentu saja aku tahu, tapi…”
“Sudahlah.. Terserah padamu saja.. Oppa mau tidur. Selamat malam
Jimin kecilku..”
“Hmm”
Menikah? Apa Sungha mau menikah denganku?
***
Esok harinya…..
@Taman
“Tidak. Oppa hanya
suka dengan cara Sungha memperlakukanmu. Lalu, kenapa kau tidak menikah saja
dengannya?”, kata-kata Jihyuk oppa terus-menerus terngiang di telingaku.
“Hai Minie!”, panggil Sungha sambil melambaikan tangan.
“Kau sudah selesai latihan?”
“Iya.. Eh, penampilanmu.. Kau terlihat lebih cantik hari ini”
Seketika
terlintas dibenakku tentang ucapan Jihyuk oppa semalam. Entah mengapa ucapan
itu selalu berputar-putar di otakku.
“Hei!”, ucap Sungha menyadarkanku.
“Dag.. Dig.. Dug..”
Aduh.. Kenapa jantungku tiba-tiba jadi
begini?
“Kenapa?”, tanyanya bingung.
“Ke-kenapa kau tidak melamarku?”
“A-ap? M-melamar?”, ucap Sungha terkejut mendengar
perkataanku.
“Jihyuk oppa bertanya tentang itu padaku..”
Sejenak
ia terdiam. Mungkin ini terlalu sulit baginya..
“Baiklah. Aku akan melamarmu.. Jimin.. Apa kau mau menikah
denganku? Hidup bahagia selamanya bersamaku?”, ucap Sungha sambil menarik
sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
Astaga.. Dia benar-benar melakukannya? Apa
ini mimpi?
“I-iya”, ucapku gugup.
Seketika
ia tersenyum lalu melingkarkan cincin tersebut di jari manisku.
“Terimakasih”, ucapnya senang sambil memelukku.
***
1 minggu kemudian….
Disini, aku berdiri..
Menatap seseorang yang berdiri jauh di depan sana. Terlihat kebahagiaan yang
memancar di wajahnya saat ia tersenyum padaku. Perlahan Jihyuk oppa menuntunku
berjalan menuju ke arahnya. Dengan yakin, kamipun saling mengucapkan janji
suci.
“Terimakasih. Aku mencintaimu”, bisik Sungha di telingaku.
“Aku juga mencintaimu”, ucapku bahagia lalu memeluk erat
tubuhnya.
Hari ini.. Di hari yang paling
membahagiakan.. Aku telah menjadi milik Sungha.. Seutuhnya..
***
@Sungha Apartemen
Sore
berganti malam.. Udara dingin yang dihembuskan angin mulai menusuk tubuh..
Suasana gelappun seakan menambah keheningan kami.
“Eh, terimakasih”, ucap Sungha memecah keheningan.
“Su-sudahlah.. Jangan minta maaf terus..”
“E.. I-iya..”
“A-apa kau kedinginan?”
“Iya”
“Baiklah.. Aku akan membuat kopi dan menghangatkan air”
“T-tidak! Aku saja…”
“B-baiklah..”
Dengan
gugup aku berjalan menuju ke dapur. Kuambil dua buah cangkir lalu kutambahkan
beberapa sendok kopi dan gula ke dalamnya. Perlahan kutuang air panas lalu
kuaduk hingga tercampur sepenuhnya. Sejenak aku berpikir.. Sampai sekarang, aku
masih belum percaya jika aku sudah menikah dengan Sungha. Seketika kakiku
terasa berat untuk melangkah ke arahnya. Rasa takutpun mulai menyelimutiku.
“Sudah?”, tanyanya mengejutkanku.
“I-iya.. Mandilah..”, ucapku sambil memberikan sehelai
handuk kepadanya.
“Huh”, helaku sambil menghembuskan napas.
Dengan
gemetar kulangkahkan kakiku lalu duduk di atas sofa. Tak lama kemudian,
Sunghapun keluar.
“Mandilah”, ucapnya sambil memberikan handuknya padaku.
“I-iya”
Bodoh! Kenapa kau jadi setakut ini, hah?!
Setelah mandi dan memakai
pakaian akupun berjalan ke arahnya lalu duduk disampingnya.
“Eh, a-aku sebaiknya tidur saja, ya”
“Eh, tidur? Baiklah akan kumatikan semua lampu dan kukunci
semua pintu lalu kita tidur”
“Eh, kau juga tidur?”
“Heeh.. Tenang.. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu”
Dengan
nakal iapun mengedipkan sebelah matanya ke arahku.
“Dag.. Dig.. Dug..” Lagi, lagi, dan lagi jantungku seperti
akan meledak.
Dengan
langkah gontai aku masuk ke dalam kamar lalu bergegas tidur.
***
Esok harinya…
“Jimin!”, panggil seorang laki-laki tua padaku.
Wajah itu.. Wajah yang taka sing bagiku..
Wajah yang selalu menghantui pikiranku..
“Ayah”, ucapku lalu berlari menghampirinya.
“Jimin kecilku sekarang sudah tumbuh besar”, ucap ayah
sambil memegang pipiku.
“Ayah jahat! Ayah sudah membiarkan aku dan Jihyuk oppa hidup
tanpa ayah!”
Dengan
kesal, kupukul perut ayahku.
“Aiss.. Sakit.. Kau kasar sekali..”
“Ah, sakit ya? Maaf ayah..”
“Hmm.. Dasar anak nakal! Ayo ikut ayah!”
Dengan
hati-hati ayah menuntunku menuju ke sebuah danau. Disana ayah bercerita banyak
tentang kehidupan masa kecilku. Aku juga bercerita padanya tentang Sungha dan
Jihyuk oppa. Tiba-tiba ekspresi wajah ayah berubah.
“Maafkan ayah, Jimin”
“Untuk apa?”
Perlahan
tubuh ayah mengabur membentuk bayang-bayang.
“T-tunggu! Ayah kenapa? Jangan pergi ayah!”, ucapku sambil
menarik tangan ayah.
Seketika
ayah hilang dihembuskan oleh angin.
“Ayah!”, teriakku saat kubuka mataku.
“Kenapa?”, tanya Sungha bingung.
“Aku melihat ayah...”
Seketika
air mataku mengalir membuat isakan yang tak tertahankan di dalam hatiku.
Tiba-tiba Sungha memelukku. Perlahan semakin erat.
“Kenapa?”, tanyaku bingung.
“Aku takut... Aku takut kehilanganmu..”, ucapnya dengan
suara sedikit terisak.
“Kau takut jika aku akan dibunuh oleh pembunuh itu, ya?
Sudah.. Jangan khawatir.. Dia takkan bisa melawanku..”, ucapku sambil mengelus
punggungnya.
“Pip” Tiba-tiba handphoneku bergetar, bertanda ada panggilan
yang masuk.
“Jimin?”
”Iya oppa?”
“Ke rumah sekarang..”
“Apa? Ke rumah sekarang?”
“Iya.. Cepatlah..
Oppa menunggumu..”
“B-baiklah..”
“Kenapa?”, tanya Sungha penasaran.
“Jihyuk oppa menyuruhku ke rumah sekarang”, ucapku lalu
melangkah pergi meninggalkan tempat tidur.
“Tapi..”, ucap Sungha sambil menahan tanganku.
“Aku akan segera kembali. Tunggu aku, ya”, ucapku sambil
melepaskan genggaman tangannya lalu bergegas pergi.
***
@Jimin house
Aneh.. Kenapa tiba-tiba Jihyuk
oppa menyuruhku datang kesini? Apa dia tidak kerja?
“Tok tok tok”
“Klek”
“Jimin..”
Wajah
Jihyuk oppa seakan mengisyaratkan suatu kekecewaan yang telah tertumpuk.
“Ada apa?”
“Kemarilah..”
“Itu apa?”, tanyaku pada selembaran kertas yang ia pegang.
“Ini... Data identitas penduduk..”
“Jadi oppa sudah menemukan pelakunya?”
“Iya..”
“Mana?”
“Lihatlah...”
Dengan
penuh penasaran akupun mengambil selembaran kertas tersebut.
“Jleb”, seketika seperti ada benda tajam yang menghujam
hatiku.
“Sung.. Ha.. Jung...?”, ucapku lalu terduduk lemas ke
lantai.
Kenapa..? Kenapa harus sungha...? Jadi..
Apa arti semua ini...?
“Jimin..” , ucap Jihyuk oppa tidak tega sambil memelukku.
Perlahan
air metaku mengalir. Benar-benar sesak rasanya.. Dengankekecewaan yang
tertumpuk di dalam hatiku, aku berlari pergi menemui Sungha.
@Sungha apartemen
Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi.. Tidak pernah terpikir
olehku untuk menjelaskan semuanya.. Aku terlalu takut untuk melihatnya
berteriak menangis kepadaku.. Sekarag, hanya menunggu waktu.. Hingga ia
benar-benar akan membunuhku..
Jimin.. Maafkan ak.. Aku benar-benar menyesal.. Aku tidak punya
kata-kata apapun yang bisa kuyakinkan untuk menjelaskan semuanya padamu.. Tidak
ada yang lain.. Kematian adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk
menebus semua kesalahanku padamu..
Maafkan aku, Jimin...
Aku mencintaimu...
“Klek” Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
Dengan
penuh kekecewaan ia berjalan ke arahku.
“Kau pembunuh! Kenapa kau membunuh ayahku?!” , teriaknya
marah sambil menarik bajuku.
“Maaf”, ucapku lemas tak berdaya.
“Bagaimana bisa kau menjelaskan semuanya, hah?! Apa arti
semua ini? Apa hanya karena kau kasihan padaku?!”
“Tidak..”
“AAAAAA!!! Selamanya aku tidak akn mengampunimu!”, jeritnya
lalu melangkah pergi meninggalkanku.
Aku
terjatuh bersama dengan air mata yang tumpah membasahi pipiku.
Jimin..
Maafkan aku.. Sungguh, aku tulus mencintaimu tanpa alasan apapun..
1 minggu kemudian...
Tuhan.. Mengapa begitu kejam kau
memberi kehidupan sepertiini kepadaku? Apa salahku? Kenapa harus suamiku
sendiri yang membunuh ayahku?
“Tok tok tok”
“Boleh oppa masuk?”, tanya Jihyuk oppa dari balik pintu.
Dengan
cepat aku mengusap air mataku.
“Jimin.. Sampai kapan kau akan terus mengurung diri deperti
ini?”
“Maaf, oppa.. Tapi aku ingin sendiri..”
“Baiklah.. Tapi kau harus pikirkan misi kita. Jika kau tidak
mau mebunuhnya, maka aku yang akan membunuhnya”
Membunuh Sungha..? Tidak!
“Tidak! Biar aku saja yang melakukannya”
“Baiklah.. Oppa akn melihatmu dari belakang. Jika kau tidak
sanggup melakukannya, maka oppa yang akan menggantikanmu untuk membunuhnya”
Aku tahu.. Pada akhirnya aku
harus melakukan ini.. Maafkan aku, Sungha.. Aku mencintaimu...
***
@Taman
Sungha POV
Haaah.. Setelah sekian lama
akhirnya Jimin mengajakku bertemu di taman ini. Aku sangat khawatir. Sudah
hampir satu minggu ia tidak mengabariku. Hmm.. Jika dia melihat hadiah ini, dia
pasti senang. Aku mencintaimu, Jimin... Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin
bertemu denganmu..
Dari
kejauhan, terlihat ia sedang berjalan ke arahku.
“Ee.. Hai..”, sapaku padanya.
Dia
hanya diam.. Tertunduk tanpa mengatakan apapun. Di belakangnya, Jihyuk hyung
berdiri tanpa melihat ke arah kami.
“Selamat ulang tahun, Minie!”, ucapku sambil memberikan
hadiah yang telah kupersiapkan.
“Aku tidak btuh hadiah dari pembunuh sepertimu!”, ucapnya
sambil melempar hadiah yang kuberikan.
“Maafkan aku, Minie..”
“Tidak! Aku tidak akan memafkan pembunuh sepertimu! Kau
pembunuh! Kau telah menghancurkan semua kebahagiaanku!”, teriaknya marah sambil
terisak.
“Maaf, Jimin...”, ucapku sambil memegang tangannya.
“Jangan sentuh aku! Kau pembunuh!”
“Iya! Katakan terus aku pembunuh! Aku memang pembunuh! Aku
sudah membunuh ayahmu! Ayahmu telah menghancurkan semua kehidupanku! Dia
membuat bisnis ayahku bangkrut dengan merebut semua rekan-rekan kerja ayahku!
Untuk kelancaran bisnidnya ia tega memfitnah ayahku dengan tuduhan penggelapan
dana! Ayahmu telah membuat ayahku mati! Ayahmu telah membuatku terpaksa hidup
degan orang lain! Ayahmu sudah membuatku melihat ibuku tewas gantung diri di
depan mataku sendiri! Apa kau pikir itu tidak menyakitkan, hah?!”, bentakku
dengan suara terisak.
Seketika
ia terdiam lalu jatuh lemas ke tanah.
“AAAAAAAAAAAA!!!!”, teriaknya tak tertahankan.
“Maafkan aku, Minie..”, ucapku sambil memegang tangannya.
“Jangan sentuh aku! “, ucapnya sambil mengarahkan sebuah
pistol ke arahku.
“Minie..”
Dengan
berani aku melangkahkan kakiku kembali ke arahnya.
“Jangan mendekat! Atau kau akan kubunuh!”
“Maafkan aku, Minie.. Aku mencintaimu..”, ucapku sambil
memeluknya.
“HYAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”
DOOOOORRRR!!!!
Tiba-tiba
terdengar sara tembakan. Seketika Minie terjatuh dengan darah yang mengucur
dari kepalanya.
“Jimin?”, teriak Jihyuk hyung langsung menghampiri Jimin.
“Minie..?”, ucapku masih tidak percaya.
“HYAAAAAAA!!!!” Seketika batinku menjerit tak tertahankan.
Kenapa Jimin? Kenapa kau tidak
membunuh diriku saja?!
@Pemakaman
Jihyuk POV
Disini.. Di tempat
peristirahatan terakhir Jimin kecilku.. Adikku satu-satunya kini telah menyusul
ayahku.. Sekarag hanya ada aku dan Sungha disini.. Dengan haru yang menyelimuti
kami...
Maafkan oppa, Jimin.. Kalau saja
oppa tidak memaksamu membunuh Sungha, mungkin kau masih bisa bersama kami
lagi.. Oppa benar-benar minta maaf..
Perlahan
kuambil selembar surat yang ada di sakuku. Ini adalah suart terakhir yang
ditulis Jimin sebelum ia meninggal.
Kepada Jihyuk oppa
Saat kau membaca surat ini
mungkin aku sudah tidak berada disini lagi.. Terimakasih oppa.. Terimakasih
suda menjadi pengganti ayah... Maafkan aku.. Aku tidak bisa menjadi adik yang
baik untukmu.. Aku selalu saja bersikap kasar padamu, tapi sekalipun kau tidak
pernah memarahiku.. Aku benar-benar minta maaf.. Sampai sekarang, aku tidak
bisa membalas semua kebaikanmu.. Bahkan aku tidak bida menepati janjiku untuk
membunuh Sungha.. Sungguh.. Rasanya sulit sekali untuk memilih salah satu di antara
kalian.. Kalian adalah orang-orang yang paling kucintai di dunia ini.. Bisakah
oppa penuhi perintaanku untuk hidup bahagia selamanya bersama Sungha? Pasti aku
akan sangat senang melihatnya dari sini.. Aku mencintaimu oppa.. Selamanya aku
akan hidup bahagia di hati kalian...
The
End
The Black Point Shoot
2 Part 3 - End