Minggu, 14 Juli 2013

The Black Point Shoot 2 Part 3 - Ending



Title              :        The Black Point
                                                Genre           :        Action-Romance, Comedy, Sad
                                                Rate             :         15+
                                                Leght            :        Seasons
                                                Cast              : -      Lee Jimin
                                                                        -      Jung Sungha
                                                                 -      Lee Jihyuk
                                                                        -      Lee Yong Gun
-           Kim Sang Min
                                                Disclamer    :        Ini adalah bagian akhir dari FF The Black Point. Author mau ngomong juga kalo setelah ini mungkin author akan vakum dari dunia ff untuk sementara waktu. Jadi, buat para reader yang selama ini sudah mau meluangkan waktunya untuk baca FF author, author ucapkan banyak-banyak terimakasih. Oh iya, siapin tissue banyak-banyak ya.. Karena ending cerita ini bakalan sangat menyentuh. Semoga kalian suka.. ^^






^^Happy Reading^^





1 tahun kemudian..



“Jimin… Aku mencintaimu, Jimin”, ucapku sambil memandang ke arah sekitar taman.

            Seketika rasa sesak menyelimuti hatiku. Akupun mencoba menghela napas untuk mengurangi sedikit kepenatan yang kurasakan.

“Hai”, panggilnya dari kejauhan.

            Astaga.. Ada apa dengannya? Kenapa dia pakai mini dress seperti itu? Rambutnya juga terurai panjang tanpa topi yang selalu melekat di kepalanya. Benar-benar cantik..

“Apa ini benar-benar Lee Jimin?”, ucapku tidak percaya.
“Iya”, ucapnya sambil tersenyum malu

            Seketika tatapanku tak terlepas dari wajahnya.

“Ke-kenapa? Ya sudah kalo begitu.. A-aku pergi”, ucapnya lalu melangkahkan kaki berniat untuk pergi.
:J-jangan! K-kau benar-benar cantik”
“B-benarkah? Terimakasih”



            Dengan gugup kami mencoba berjalan-jalan di sekitar taman sambil bergenggaman tangan. Kicauan burungpun sseakan menemani kesunyian kami.

“Kenapa kau berubah?”, tanyaku memecah keheningan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya mencoba menjadi wanita yang pantas untukmu”
“Hmm.. Kemarilah”, ucapku lalu memeluk erat tubuhnya.
“I Love You Just The Way You Are.. Jadi, siapapun kamu. Aku akan tetap mencintaimu”
 “Pip” Tiba-tiba handphone di tasnya berdering.
“Jihyuk oppa?”, ucapnya setelah membaca nama yang tertera di layar telepon.

            Dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut.

“Iya, kenapa oppa? Benarkah? Baiklah, aku dan Sungha akan segera kesana”, ucapnya lalu menutup telepon.
“Ada apa?, tanyaku penasaran.
“Jihyuk oppa sudah menemukan alamat rumah lama pembunuh itu”
“Benarkah?”
“Iya. Ayo kita kesana!”




Jimin POV



            Dengan cepat kami menuju ke rumah yang tertera di alamat ini. Dari kejauhan terlihat sebuah rumah mewah tak berpenghuni. Kesan mistik seakan menyelimuti rumah tersebut.

“Jadi, ini rumahnya?”, ucapku sambil menunjuk ke arah rumah tua itu.
“Sepertinya”
“Oke, ayo kita tanya ke rumah sebelah”, ajakku lalu melangkah pergi ke sebuah rumah yang terletak tepat di sebelah rumah mewah tersebut.


“Tok tok tok”
“Iya?”, ucap seorang wanita keluar dari pintu.
“Maaf mengganggu, bi. Aku orang yang mencari informasi tentang keberadaan penghuni rumah sebelah”
“Oh, iya iya bibi tahu. Lho, ini Sungha Jung?”, tanya bibi itu tidak percaya.
“Iya”, ucap Sungha sambil menunduk hormat.
“Astaga.. A-ayo silahkan masuk”






***






“Apa bibi kenal dengan orang ini?”, tanyaku sambil menunjukkan sebuah foto ke arah bibi tersebut.
“Iya. Ini anak pemilik rumah di sebelah. Kalau tidak salah namanya Kim Sangmin. Suatu hari perusahaan ayahnya bangkrut. Mereka jatuh miskin. Semua harta kekayaannya disita, lalu ayahnya masuk penjara dengan tuduhan penggelapan dana. Tak lama kemudian ayahnya meninggal karena serangan jantung. Ibunya lalu memberikannya kepada keluarga konglomerat kaya. Beberapa hari kemudian ibunya ditemukan tewas gantung diri”
“A-apa? Jadi apa bibi tahu dimana rumah keluarga konglomerat itu?”
“Wah.. Kalau soal itu bibi tidak tahu. Yang bibi tahu cuma itu”
“Hmm.. Baiklah, terimakasih banyak ya bi”






***





@mobil




“Cerita pembuh itu ternyata cukup tragis..”, ucap Sungha sambil menyetir mobil.
“Iya. Tapi, tidak seharusnya dia membunuh ayahku”
“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?”
“Titik hitam telah hampir ditemukan. Sewaktu kutemui pembunuh itu, pada saat itu juga aku akan membunuhnya”
“Bagaimana jika dia orang terdekatmu? Apa kau akn benar-benar membunuhnya?”

            Pertanyaan Sungha seketika membuatku terdiam. Tapi walau bagaimanapun, pembalasan dendam ayah adalah misiku dari awal.

“Tentu”
“Baiklah.. Semoga kau berhasil. Tapi kau harus berhati-hati, ya?”
“Iya.. Tenang saja. Jangan khawatir”

            Tak lama kemudian, kamipun sampai di depan rumahku. Dari luar terlihat Jihyuk oppa sedang melambaikan tangan ke arah kami. Sunghapun menunduk hormat padanya.

“Aku turun, ya. Terimakasih banyak sudah menolongku”, ucapku sambil membuka pintu mobil.
“Iya, cantik. Apa kau akan dandan seperti ini lagi besok?”, goda Sungha padaku.
“Diamlah!”, ucapku kasar sambil menghempaskan pintu mobilnya.




@Jimin house





“Jimin, kenapa penampilanmu jadi seperti ini?”, tanya Jihyuk oppa tidak percaya.
“Jangan tanya! Aku sudah tahu kau akn mengejekku”
“Tidak. Kau benar-benar cantik.. Ini baru Jimin kecilnya oppa”
“Jad, selama ini aku bukan Jimin kecil oppa?”
“Iya juga.. Tapi kau terlalu kasar. Kau bahkan seperti terlihat lebih tua dariku”
“Hmm.. Terserah oppa saja”
“Apa ini karena Sungha?”
“I-iya..  Aku ingin tampil sewajarnya di hadapannya”
“Hahaha.. Tak kusangka, ternyata Sunga lebih hebat dariku. Bahkan dia bisa meruntuhkan batu dengan kekuatan sepuluh kali lipat lebih keras”
“Apa? Oppa pikir aku batu?”, ucapku kesal sambil mengacungkan tanganku.
“Mungkin.. Hahaha.. Tidak.. Oppa hanya bercanda. Oh iya, bagaimana dengan misi kita?”
“Tadi aku dan Sungha sudah kesana. Bibi yang tinggal di sebelah rumah itu bilang kalau itu anak Tuan Kim. Namanya Kim Sangmin. Sejak ayahnya meninggal, ibunya menyerahkan kepada keluarga konglomerat kaya”


“Lalu, apa kau tanya alamat rumah konglomerat itu?”
“Iya, tapi bibi itu bilang dia tidak tahu”
“Hmm.. Baiklah, kalau begitu oppa akan menyuruh bawahan oppa untuk melihat data identitas penduduk ke beberapa kantor camat”
“Hmm.. Baiklah, semoga sukses ya oppa!”
“Iya, kau juga sukses dengan Sungha, ya”
“Maksud oppa?”
“Tidak. Oppa hanya suka dengan cara Sungha memperlakukanmu. Lalu, kenapa kau tidak menikah saja dengannya?”
“Apa? M-menikah?”
“Astaga.. Apa kau juga tidak tahu apa itu menikah?”
“Tentu saja aku tahu, tapi…”
“Sudahlah.. Terserah padamu saja.. Oppa mau tidur. Selamat malam Jimin kecilku..”
“Hmm”


                Menikah? Apa Sungha mau menikah denganku?





***




Esok harinya…..



@Taman



“Tidak. Oppa hanya suka dengan cara Sungha memperlakukanmu. Lalu, kenapa kau tidak menikah saja dengannya?”, kata-kata Jihyuk oppa terus-menerus terngiang di telingaku.




“Hai Minie!”, panggil Sungha sambil melambaikan tangan.
“Kau sudah selesai latihan?”
“Iya.. Eh, penampilanmu.. Kau terlihat lebih cantik hari ini”

                Seketika terlintas dibenakku tentang ucapan Jihyuk oppa semalam. Entah mengapa ucapan itu selalu berputar-putar di otakku.

“Hei!”, ucap Sungha menyadarkanku.

“Dag.. Dig.. Dug..”

                Aduh.. Kenapa jantungku tiba-tiba jadi begini?

“Kenapa?”, tanyanya bingung.
“Ke-kenapa kau tidak melamarku?”
“A-ap? M-melamar?”, ucap Sungha terkejut mendengar perkataanku.
“Jihyuk oppa bertanya tentang itu padaku..”

                Sejenak ia terdiam. Mungkin ini terlalu sulit baginya..

“Baiklah. Aku akan melamarmu.. Jimin.. Apa kau mau menikah denganku? Hidup bahagia selamanya bersamaku?”, ucap Sungha sambil menarik sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.

                Astaga.. Dia benar-benar melakukannya? Apa ini mimpi?

“I-iya”, ucapku gugup.

                Seketika ia tersenyum lalu melingkarkan cincin tersebut di jari manisku.

“Terimakasih”, ucapnya senang sambil memelukku.





***



1 minggu kemudian….




                Disini, aku berdiri.. Menatap seseorang yang berdiri jauh di depan sana. Terlihat kebahagiaan yang memancar di wajahnya saat ia tersenyum padaku. Perlahan Jihyuk oppa menuntunku berjalan menuju ke arahnya. Dengan yakin, kamipun saling mengucapkan janji suci.

“Terimakasih. Aku mencintaimu”, bisik Sungha di telingaku.
“Aku juga mencintaimu”, ucapku bahagia lalu memeluk erat tubuhnya.


                Hari ini.. Di hari yang paling membahagiakan.. Aku telah menjadi milik Sungha.. Seutuhnya..








***







@Sungha Apartemen






                Sore berganti malam.. Udara dingin yang dihembuskan angin mulai menusuk tubuh.. Suasana gelappun seakan menambah keheningan kami.

“Eh, terimakasih”, ucap Sungha memecah keheningan.
“Su-sudahlah.. Jangan minta maaf terus..”
“E.. I-iya..”
“A-apa kau kedinginan?”
“Iya”
“Baiklah.. Aku akan membuat kopi dan menghangatkan air”
“T-tidak! Aku saja…”
“B-baiklah..”


                Dengan gugup aku berjalan menuju ke dapur. Kuambil dua buah cangkir lalu kutambahkan beberapa sendok kopi dan gula ke dalamnya. Perlahan kutuang air panas lalu kuaduk hingga tercampur sepenuhnya. Sejenak aku berpikir.. Sampai sekarang, aku masih belum percaya jika aku sudah menikah dengan Sungha. Seketika kakiku terasa berat untuk melangkah ke arahnya. Rasa takutpun mulai menyelimutiku.



“Sudah?”, tanyanya mengejutkanku.
“I-iya.. Mandilah..”, ucapku sambil memberikan sehelai handuk kepadanya.
“Huh”, helaku sambil menghembuskan napas.



                Dengan gemetar kulangkahkan kakiku lalu duduk di atas sofa. Tak lama kemudian, Sunghapun keluar.



“Mandilah”, ucapnya sambil memberikan handuknya padaku.
“I-iya”



                Bodoh! Kenapa kau jadi setakut ini, hah?! 


                Setelah mandi dan memakai pakaian akupun berjalan ke arahnya lalu duduk disampingnya.


“Eh, a-aku sebaiknya tidur saja, ya”
“Eh, tidur? Baiklah akan kumatikan semua lampu dan kukunci semua pintu lalu kita tidur”
“Eh, kau juga tidur?”
“Heeh.. Tenang.. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu”



                Dengan nakal iapun mengedipkan sebelah matanya ke arahku.


“Dag.. Dig.. Dug..” Lagi, lagi, dan lagi jantungku seperti akan meledak.




                Dengan langkah gontai aku masuk ke dalam kamar lalu bergegas tidur.










***







Esok harinya…








“Jimin!”, panggil seorang laki-laki tua padaku.



                Wajah itu.. Wajah yang taka sing bagiku.. Wajah yang selalu menghantui pikiranku..



“Ayah”, ucapku lalu berlari menghampirinya.
“Jimin kecilku sekarang sudah tumbuh besar”, ucap ayah sambil memegang pipiku.
“Ayah jahat! Ayah sudah membiarkan aku dan Jihyuk oppa hidup tanpa ayah!”



                Dengan kesal, kupukul perut ayahku.



“Aiss.. Sakit.. Kau kasar sekali..”
“Ah, sakit ya? Maaf ayah..”

“Hmm.. Dasar anak nakal! Ayo ikut ayah!”




                Dengan hati-hati ayah menuntunku menuju ke sebuah danau. Disana ayah bercerita banyak tentang kehidupan masa kecilku. Aku juga bercerita padanya tentang Sungha dan Jihyuk oppa. Tiba-tiba ekspresi wajah ayah berubah.



“Maafkan ayah, Jimin”
“Untuk apa?”



                Perlahan tubuh ayah mengabur membentuk bayang-bayang.



“T-tunggu! Ayah kenapa? Jangan pergi ayah!”, ucapku sambil menarik tangan ayah.



                Seketika ayah hilang dihembuskan oleh angin.



“Ayah!”, teriakku saat kubuka mataku.
“Kenapa?”, tanya Sungha bingung.
“Aku melihat ayah...”




                Seketika air mataku mengalir membuat isakan yang tak tertahankan di dalam hatiku. Tiba-tiba Sungha memelukku. Perlahan semakin erat.



“Kenapa?”, tanyaku bingung.
“Aku takut... Aku takut kehilanganmu..”, ucapnya dengan suara sedikit terisak.
“Kau takut jika aku akan dibunuh oleh pembunuh itu, ya? Sudah.. Jangan khawatir.. Dia takkan bisa melawanku..”, ucapku sambil mengelus punggungnya.



“Pip” Tiba-tiba handphoneku bergetar, bertanda ada panggilan yang masuk.



“Jimin?”
”Iya oppa?”
“Ke rumah sekarang..”
“Apa? Ke rumah sekarang?”
“Iya.. Cepatlah.. Oppa menunggumu..”
“B-baiklah..”




“Kenapa?”, tanya Sungha penasaran.
“Jihyuk oppa menyuruhku ke rumah sekarang”, ucapku lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tidur.
“Tapi..”, ucap Sungha sambil menahan tanganku.
“Aku akan segera kembali. Tunggu aku, ya”, ucapku sambil melepaskan genggaman tangannya lalu bergegas pergi.









***







@Jimin house






                Aneh.. Kenapa tiba-tiba Jihyuk oppa menyuruhku datang kesini? Apa dia tidak kerja?




“Tok tok tok”
“Klek”



“Jimin..”
                


                Wajah Jihyuk oppa seakan mengisyaratkan suatu kekecewaan yang telah tertumpuk.



“Ada apa?”
“Kemarilah..”
“Itu apa?”, tanyaku pada selembaran kertas yang ia pegang.
“Ini... Data identitas penduduk..”
“Jadi oppa sudah menemukan pelakunya?”
“Iya..”
“Mana?”
“Lihatlah...”



                Dengan penuh penasaran akupun mengambil selembaran kertas tersebut.



“Jleb”, seketika seperti ada benda tajam yang menghujam hatiku.

“Sung.. Ha.. Jung...?”, ucapku lalu terduduk lemas ke lantai.



                Kenapa..? Kenapa harus sungha...? Jadi.. Apa arti semua ini...?


“Jimin..” , ucap Jihyuk oppa tidak tega sambil memelukku.



                Perlahan air metaku mengalir. Benar-benar sesak rasanya.. Dengankekecewaan yang tertumpuk di dalam hatiku, aku berlari pergi menemui Sungha.









@Sungha apartemen





Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi.. Tidak pernah terpikir olehku untuk menjelaskan semuanya.. Aku terlalu takut untuk melihatnya berteriak menangis kepadaku.. Sekarag, hanya menunggu waktu.. Hingga ia benar-benar akan membunuhku..


Jimin.. Maafkan ak.. Aku benar-benar menyesal.. Aku tidak punya kata-kata apapun yang bisa kuyakinkan untuk menjelaskan semuanya padamu.. Tidak ada yang lain.. Kematian adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk menebus semua kesalahanku padamu..
  
 Maafkan aku, Jimin... Aku mencintaimu...
 



“Klek” Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.


                Dengan penuh kekecewaan ia berjalan ke arahku.



“Kau pembunuh! Kenapa kau membunuh ayahku?!” , teriaknya marah sambil menarik bajuku.
“Maaf”, ucapku lemas tak berdaya.
“Bagaimana bisa kau menjelaskan semuanya, hah?! Apa arti semua ini? Apa hanya karena kau kasihan padaku?!”
“Tidak..”
“AAAAAA!!! Selamanya aku tidak akn mengampunimu!”, jeritnya lalu melangkah pergi meninggalkanku.



                Aku terjatuh bersama dengan air mata yang tumpah membasahi pipiku.
 

                Jimin.. Maafkan aku.. Sungguh, aku tulus mencintaimu tanpa alasan apapun..











1 minggu kemudian...




                Tuhan.. Mengapa begitu kejam kau memberi kehidupan sepertiini kepadaku? Apa salahku? Kenapa harus suamiku sendiri yang membunuh ayahku?



“Tok tok tok”



“Boleh oppa masuk?”, tanya Jihyuk oppa dari balik pintu.



                Dengan cepat aku mengusap air mataku.



“Jimin.. Sampai kapan kau akan terus mengurung diri deperti ini?”
“Maaf, oppa.. Tapi aku ingin sendiri..”
“Baiklah.. Tapi kau harus pikirkan misi kita. Jika kau tidak mau mebunuhnya, maka aku yang akan membunuhnya”



                Membunuh Sungha..? Tidak!




“Tidak! Biar aku saja yang melakukannya”
“Baiklah.. Oppa akn melihatmu dari belakang. Jika kau tidak sanggup melakukannya, maka oppa yang akan menggantikanmu untuk membunuhnya”




                Aku tahu.. Pada akhirnya aku harus melakukan ini.. Maafkan aku, Sungha.. Aku mencintaimu...











***







@Taman





Sungha POV




                Haaah.. Setelah sekian lama akhirnya Jimin mengajakku bertemu di taman ini. Aku sangat khawatir. Sudah hampir satu minggu ia tidak mengabariku. Hmm.. Jika dia melihat hadiah ini, dia pasti senang. Aku mencintaimu, Jimin... Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu..




                Dari kejauhan, terlihat ia sedang berjalan ke arahku.



“Ee.. Hai..”, sapaku padanya.




                Dia hanya diam.. Tertunduk tanpa mengatakan apapun. Di belakangnya, Jihyuk hyung berdiri tanpa melihat ke arah kami.




“Selamat ulang tahun, Minie!”, ucapku sambil memberikan hadiah yang telah kupersiapkan.
“Aku tidak btuh hadiah dari pembunuh sepertimu!”, ucapnya sambil melempar hadiah yang kuberikan.
“Maafkan aku, Minie..”
“Tidak! Aku tidak akan memafkan pembunuh sepertimu! Kau pembunuh! Kau telah menghancurkan semua kebahagiaanku!”, teriaknya marah sambil terisak.
“Maaf, Jimin...”, ucapku sambil memegang tangannya.
“Jangan sentuh aku! Kau pembunuh!”
“Iya! Katakan terus aku pembunuh! Aku memang pembunuh! Aku sudah membunuh ayahmu! Ayahmu telah menghancurkan semua kehidupanku! Dia membuat bisnis ayahku bangkrut dengan merebut semua rekan-rekan kerja ayahku! Untuk kelancaran bisnidnya ia tega memfitnah ayahku dengan tuduhan penggelapan dana! Ayahmu telah membuat ayahku mati! Ayahmu telah membuatku terpaksa hidup degan orang lain! Ayahmu sudah membuatku melihat ibuku tewas gantung diri di depan mataku sendiri! Apa kau pikir itu tidak menyakitkan, hah?!”, bentakku dengan suara terisak.



                Seketika ia terdiam lalu jatuh lemas ke tanah.



“AAAAAAAAAAAA!!!!”, teriaknya tak tertahankan.
“Maafkan aku, Minie..”, ucapku sambil memegang tangannya.
“Jangan sentuh aku! “, ucapnya sambil mengarahkan sebuah pistol ke arahku.
“Minie..”



                Dengan berani aku melangkahkan kakiku kembali ke arahnya.


 
“Jangan mendekat! Atau kau akan kubunuh!”
“Maafkan aku, Minie.. Aku mencintaimu..”, ucapku sambil memeluknya.
“HYAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”





DOOOOORRRR!!!!



                Tiba-tiba terdengar sara tembakan. Seketika Minie terjatuh dengan darah yang mengucur dari kepalanya.




“Jimin?”, teriak Jihyuk hyung langsung menghampiri Jimin.
“Minie..?”, ucapku masih tidak percaya.
“HYAAAAAAA!!!!” Seketika batinku menjerit tak tertahankan.



                Kenapa Jimin? Kenapa kau tidak membunuh diriku saja?!








@Pemakaman






Jihyuk POV




                Disini.. Di tempat peristirahatan terakhir Jimin kecilku.. Adikku satu-satunya kini telah menyusul ayahku.. Sekarag hanya ada aku dan Sungha disini.. Dengan haru yang menyelimuti kami...

                Maafkan oppa, Jimin.. Kalau saja oppa tidak memaksamu membunuh Sungha, mungkin kau masih bisa bersama kami lagi.. Oppa benar-benar minta maaf..


                Perlahan kuambil selembar surat yang ada di sakuku. Ini adalah suart terakhir yang ditulis Jimin sebelum ia meninggal.








Kepada Jihyuk oppa



                Saat kau membaca surat ini mungkin aku sudah tidak berada disini lagi.. Terimakasih oppa.. Terimakasih suda menjadi pengganti ayah... Maafkan aku.. Aku tidak bisa menjadi adik yang baik untukmu.. Aku selalu saja bersikap kasar padamu, tapi sekalipun kau tidak pernah memarahiku.. Aku benar-benar minta maaf.. Sampai sekarang, aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu.. Bahkan aku tidak bida menepati janjiku untuk membunuh Sungha.. Sungguh.. Rasanya sulit sekali untuk memilih salah satu di antara kalian.. Kalian adalah orang-orang yang paling kucintai di dunia ini.. Bisakah oppa penuhi perintaanku untuk hidup bahagia selamanya bersama Sungha? Pasti aku akan sangat senang melihatnya dari sini.. Aku mencintaimu oppa.. Selamanya aku akan hidup bahagia di hati kalian...











                                                                                The End









The Black Point Shoot 2 Part 3 - End




Tidak ada komentar:

Posting Komentar